AIR TERJUN TALEMPONG SITUBONDO

0
1120

Wisata Air Terjun Telempong (Talempong)

Oleh : Moh. Imron   Air Terjun Talempong, begitu kata teman-teman yang sering aku dengar. Padahal yang benar adalah Telempong. Yah, mungkin pengucapannya agar lebih mudah. Tapi nggak masalah. Jarak dari Kota Situbondo menuju Desa Telempong sekitar 53 KM. Desa Telempong merupakan salah satu desa di Kecamatan Banyuglugur. Desa ini terdiri dari 2 Dusun, 2 RW dan 9 RT. Jumlah penduduk awal 2015 kurang lebih 930 jiwa. Di lihat dari sektor pendidikan Desa Telempong terdiri dari  2 TK, dan 1 SD. Desa ini mempunyai wisata air terjun. Jika banyak dukungan dari masyarakat dan pemerintah bisa menjadi wisata yang lebih maju. Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman Backpacker Situbondo berkunjung ke sana. Sebanyak dua puluh orang, kami berkendara sepeda motor. Termasuk tiga teman yang dari Bondowoso. Sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh satu menit. Saya tiba di Desa Telempong. Menuju air terjun tidak mudah. Saya berjalan kaki melewati rumah-rumah dan sawah. Sementara sepeda motor dititipkan di tetangga. Perjalanan ke air terjun kurang lebih sekitar tiga puluh menit dari penitipan sepeda dengan jalan setapak. Saya harus melewati lereng bukit yang naik turun dan berbatu serta tumbuhan tumbuhan yang eksotis. Perjalanan ini cukup membuat napas sedikit tersengal dan berkeringat. Itung-itung olahraga. Meskipun matahari sangat panas tapi tidak mampu menembus pepohohan yang berjejer dan tinggi di lereng bukit ini. Tak heran jika di siang ini masih sejuk dan banyak burung yang memamerkan suara merdunya  diiringi suara aliran sungai dari aliran air terjun. Di tengah perjalanan saya juga melihat segelintir orang mengairi sawahnya. Kebetulan waktu itu di tanami cabe. Ada juga yang sedang mencari kayu bakar dan memukul padi. Saat tiba di air terjun saya melepas lelah dengan duduk bersandar di bebatuan. Sebagian teman juga ada yang masih di belakang terutama yang perempuan. Maklum tenaga perempuan memang  lemah juga persaannya. Hehe. Saya memandangi air terjun. Mungkin ini salah satu sumber air yang menghidupi tanaman yang saya lewati tadi. Airnya jernih dan dingin. Tinggi air terjun kurang lebih sekitar 45 meter dan debit air 145 kubik perdetik. Berada di sini, jadi ingin tidur. Apalagi udaranya sejuk. Sementara di sebelah kanan dan kiri terlihat tebing bebatuan yang tinggi. “Yuk, foto-foto!” “Ayukk…” Teman-teman Backpacker  ada yang selfi, foto bersama, memotret air terjun, ada yang ngemil sedangkan teman dari bondowoso sedang buat mie. Wah masakannya enak juga. Saya membayangkan jika di sini ada kegiatan outbound yang menantang. Mungkin lebih asik. Syukur-syukur pemerintah membangun akses jalan lebih mudah. Tentu banyak wisatawan yang akan ke sini. Setelah teman-teman tiba semua. Mereka membahas tentang rencana kegiatan Pendakian ke Gunung Ringgit dan Upacara 17 Agustus 2015 di Baluran. Rapat ini diikuti oleh pengurus yaitu Juply, Ipul, Wahyu dan semua anggota. Mereka mengikuti rapat sambil ngemil. Setelah selesai sebagian ada yang mandi. Di tempat ini ada dua fauna yang saya temui yaitu; 1) Capung Jarum. Kalau di rumah dibilang seset jerum. Warnanya hitam, sayapnya juga hitam di tengahnya ada warna orange. Capung ini berterbangan di atas bebatuan dekat air terjun. Saya sempat memotretnya saat hinggap di batu. 2) Serangga Air. Hewan ini mirip laba-laba. Kakinya enam berjalan di atas air. Beberapa serangga ini berjalan maju mundur kayak lagunya Rina Nose “Maju mundur cantik”. Selain itu di sana juga terdapat lichensbisa dikenal dengan lumut kerak. Lumut berwarna hijau  ini berkembang biak di bebatuan air terjun Telempong. Karna tempat ini sangat lembab. Katanya lumut ini juga bisa dijadikan obat. Sekitar dua jam saya di tempat ini. Selain teman-teman, ada juga pengunjung lain. Ada yang bersama pasangannya. Mungkin mereka juga ingin menciptakan kenangan bersama pacarnya di sini. Pokoknya asik kalau membawa pacarnya ke sini. Asal jangan membawa sampah. Yah, ini yang nggak asik. Setelah puas saya di sini teman-teman mengumpulkan sampah-sampah plastik yang terkumpul dalam empat plastik besar. Lalu teman-teman membawanya pulang. “Yuk, kita cabut.” “Ok, ntar lagi langsung ke Pantai Tampora.” Begitu obrolan teman-teman. Dalam perjalanan pulang saya juga bertemu puluhan pengunjung baru yang sedang bersalipan. Saya sempat menyapanya. Katanya ia juga ingin pergi ke air terjun Telempong. Lalu saya melanjutkan perjalan ke Pantai Tampora. Hari yang sangat menyenangkan. Referensi: 1. Badan Statistik Situbondo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY